Minggu, 11 September 2011

Cerpen : Sinar


Because of you, my life has changed,
thank you for the love and the joy you bring
Because of you, I feel no shame,
I'll tell the world it's because of you
My life has changed
thank you for the love and the joy you bring
Because of you, I feel no shame,
I'll tell the world it's because of you............

Alunan lagu yang begitu indah...
Aroma cafe ini masih lekat dalam setiap tarikan napasku. Tempat favoritku "Wina Cafe", penataan ruang yang menurutku sungguh menarik, nyaman, dan sangat romantis. Sebagai seorang designer interior saya sangat appreciate dengan keindahan tata ruang tempat ini.

Sepasang mata yang indah namun tanpa cahaya, kulihat ia dari kejauhan duduk termenung sendiri.
Dari paras wanita itu tampak ia sedang sedih. Ingin rasanya duduk lebih lama menatap makhluk ciptaan Tuhan yang tiada cela secara kasat mataku. Namun, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 12.50 Wib dan itu berarti 10 menit lagi jam istirahat sudah hampir berakhir. Kulangkahkan kakiku keluar dari cafe tersebut. Dengan rasa penasaran yang masih membayangiku, kuberbalik arah menatap wajah gadis manis dengan mata indah. Dia tetap dengan posisi duduknya, melihat menu makanan yang tersaji di meja, namun belum ia sentuh sedikit pun.

Lembur berhari - hari sudah menjadi hal yang biasa buatku. Hmm, apa boleh buat, karyawan semakin hari semakin berkurang. Boss yang seenak dengkulnya mecat, alhasil karyawan jadi sasaran. Dan sampai saat ini saya juga tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan di posisi ini. Atau mungkin posisi bossku yang akan bergeser. Entahlah biar waktu yang menentukan.

Malam ini terasa sunyi hanya berhadapan dengan design - design yang harus siap besok pagi di meja boss. Namun, malam ini begitu berbeda dengan malam - malam kemarin. Wajah wanita itu terus saja hadir...

" Andai ku mampu berkenalan dengannya ??? .......... "
“Wahai wanita dengan mata yang indah, siapakah namamu?”
sambil berpikir menatap keheningan malam dengan bintang yang berkelap – kelip seakan menggoda dirinya yang sedang dilanda asmara.
“Sinar,yaaahhh… Ok, kuberi nama kau Sinar mungkin itulah nama yang cocok untuk dirimu”
“Huuuuffttt”
Desahan napas yang panjang dan selenting pertanyaan yang memecah keheningan malam, sedikit membuatku fresh kembali ketika wajahnya tergambar dalam ingatan. Jemariku kembali bergerak dalam setumpuk design yang akan kucipta.

Selama dua bulan lebih di pagi hari sebelum masuk kantor kembali diriku mengujungi café tempatku bertemu dengan wanita pujaanku… Sinar. Selama ini tak kunjung hadir langkah wanita yang kucari. Kembali ke kantor dengan perasaan yang semakin memuncak ingin sekali bertemu dengan dirinya … Sinar, walaupun hanya nama yang kucipta sendiri melalui anganku, namun begitu dalam terasa makna dari namamu.
“ Dika, kali ini kita dapat proyek baru… “ Kata boss
“ Oh iya pak, kalau boleh tau di mana alamatnya?” tanyaku.
“ Di daerah perumahan de’ jasmine..”
“Iya, pak baik habis makan siang saya akan ke sana untuk cek lokasi.”
“Baik, saya tunggu kabar selanjutnya dari kamu Dika”

Makan siang di café itu lagi, namun tak jua kumenemui Sinar. Saya berusaha mencari tahu keberadaannya dari pemilik café tersebut. Namun, itu semua tak membuahkan hasil yang sangat aku inginkan.
Sesampainya di perumahan de’ jasmine.
“ Kok perasaanku gak karuan begini???” ujarku
Kulangkahkan kakiku menuju pintu rumah yang bercatkan hijau cerah. Menepis segala perasaan yang menyelimutiku. Dan mengetuk pintu tersebut.
“Tungguu…”
Terdengar suara seseorang dari dalam yang akan membukakan pintu.
Ketika pintu dibuka…
“ Iya mas, siapa yah?”
Pandanganku langsung tertuju ke arah wanita itu
Oh Tuhan, sontak lidahku keluh, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Wanita itu duduk di atas kursi roda dengan memancarkan senyum yang indah ke arahku.
“ Sinar ???” tanyaku
“ Maaf mas, nama saya bukan Sinar tapi Iras, Iras Kurniawan.”
Tersadar bahwa memang namanya bukanlah Sinar, wanita pujaanku yang kuberi nama dalam anganku. Namun, wajahnya masih lekat dalam ingatanku. Dia wanita yang kutemui di café itu. Wanita yang selama ini mengisi relung hatiku, walau itu hanya dalam anganku.
“Ada perlu apa yah mas?”
“Oh, maaf mbak saya Dika seorang designer interior” jawabku dengan terbata – bata.
“Masuk mas, masuk… Tunggu dulu yah!”
Memasuki ruangan yang masih sangat sederhana, perlu penataan ulang. Dengan rasa kaget yang menyelimuti perasaanku dengan keadaan Sinar (Iras Kurniawan).Tiba – tiba saja keluar seseorang dengan mendorong Sinar di atas kursi roda.
“ Maaf yah mas menunggu lama…” ujarnya
“Gak papa kok mas, perkenalkan saya Dika, designer interior” sambil mengulurkan tangan.
“Oh iya terima kasih sudah datang, kebetulan kami baru menikah 3 bulan yang lalu dan kami akan menempati rumah ini sekitar bulan Oktober.”
Oh Tuhan, Sinar sudah menjadi milik hati orang lain. Rasanya begitu campur aduk saat itu, hingga sulit untuk membuatku berkonsentrasi.
“ Mas.. Mas… Mas Dika, gimana mas? Terlalu cepat kami memilih waktunya?”
Sontak saya terbangun dari alam mimpiku selama ini.
“Oh ngggak kok mas, nggak… Kami akan usahakan bekerja hingga mencapai target mas dan mbak di bulan Oktober “
“ Syukurlah mas, terima kasih yah mas.” Senyum mengembang dari wajah Sinar.

Melihat senyuman itu semakin membuat hatiku tak berdaya.



Neng West





Tidak ada komentar:

Posting Komentar